Tampilkan postingan dengan label Cafe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cafe. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Agustus 2016

Metamorfosa Nongkrong di Pontianak

Senang juga melihat perkembangan warung kopi di Pontianak. Semula hanya warung kopi dengan menu terbatas, kopi tubruk, kopi saring dan kopi susu tapi lebih beragam kue pendampingnya. pastinya yang paling special adalah pisang serikaya dan keladi serikaya terkadang menemukan kue tradisional seperti blodar dan bingke.


Metamorfosa Nongkrong
Budaya minum kopi di Pontianak boleh dibilang sebagai bentuk asimilasi budaya tionghoa yang suka menghabiskan waktu di warung kopi untuk sarapan dan berinteraksi sosial dengan sesama teman sebelum berangkat kerja . tidak lama hanya 10-15 menit lalu kemudian berlalu begitu saja. Itulah yang akhirnya menjawab kenapa meja di warung kopi kecil-kecil dan lebih bersifat personal. dulu jika ingin minum kopi dan sarapan semua harus dikerjakan dengan cepat.

Semakin berkembangnya waktu, semua itu menjadi berubah. Kalau dulu sekedar sarapan-kopi-kue-ngobrol seadanya sekarang sudah bermetamorfosa menjadi tempat-semua-ada. Tidak bisa dipungkiri semua transaksi dan perbincangan yang ada disini melingkupi banyak hal, mulai dari perbincangan politik yang panas, gosip terbaru, jagoan sepak bola, jual tanah dan mobil hingga prostitusi dan narkoba.

Akhirnya, yang tadinya cuman butuh waktu 15 menit untuk sarapan atau break siang berubah menjadi nongkrong seharian penuh tanpa henti. dalam 24 jam warung kopi selalu setia melayani seluruh pelanggan. bahkan ada warung kopi yang memiliki pegawai lebih dari 20 orang untuk melayani pelanggan. bisa dibayangkan berapa omset satu hari yang didapat. Kalau dulu sarapan hanya mengandalkan kue melulu, sekarang beberapa warung kopi sudah bertransformasi menjadi food court super lengkap.

Warung kopi yang dulu hanya menyediakan meja, sekarang juga harus menyediakan WiFi dan colokan listrik demi menggaet makin banyak pelanggan untuk semakin betah nongkrong berlama-lama. Sekarang semua sudah berubah, kalau dulu diatas meja hanya ada kue pelengkap kopi, sekarang diisi dengan komputer jinjing berbagai merk dengan kabel berseliweran dimana-mana. kalau dulu berteriak pesanan kopi dan dan kue sekarang ditambah dengan menanyakan password WiFi.


Istilah Lokal
Budaya minum kopi di Pontianak juga menghadirkan banyak istilah, yang paling sering adalah Kopi Pancong atau kopi setengah. Kopi ini disajikan hanya dalam setengah gelas kaca kecil saja. yang bisa diminum dalam 2-3 teguk. Ini terjadi akibat si peminum kopi biasanya memiliki janji untuk nongkrong lagi di warung kopi lain.

Ada lagi istilah yang cukup familiar dan mulai populer di tahun 80an. Istilah Kopi Pangku. Istilah ini merujuk sambil meminum kopi sambil memangku. Biasanya pelayan yang melayani di warung kopi ini wanita cantik. harga kopinya juga cukup mahal. Anda mau mengartikannya sendiri? Silakan saja. Jika sudah membaca tulisan saya dari awal pasti anda sudah tahu jawabannya.


Etalase Sosial Pontianak
Sekarang warung kopi Pontianak sudah jadi tempat nongkrong berbagai macam komunitas. Tua atau muda, sendiri atau bersama keluarga, pejabat atau rakyat, pegawai negeri atau swasta. Semuanya tumpah ruah menghabiskan waktu di warung kopi. Warung kopi akhirnya punya massanya masing-masing . Semua perbincangan hangat terjadi disini apapun topiknya.

Jalan Gajahmada pun di sebut sebagai coffee street  dan menjadi ikon wisata kuliner Pontianak. lebih dari 60 warung kopi beroperasi disini. ada yang buka pagi-sore, siang-malam, hingga malam-subuh. semua punya massa dan selalu penuh. Waktu 24 jam sepertinya diisi hanya minum kopi oleh warga Pontianak. Ini sudah menjadi tradisi yang mengakar dan menjalar. Rasanya kurang gaul kalau tidak pernah merasakan nongkrong di warung kopi.


Kopi Ala Pontianak
Kopi yang biasa digunakan di banyak warung kopi di Pontianak banyak berjenis Robusta karena Kalimantan Barat sendiri kondisi tanahnya rata-rata berada didataran rendah.  Robusta sendiri cenderung rasanya lebih tipis tapi aromanya lebih harum sehingga peminum kopi disini lebih suka dengan kopi yang super kental dan super manis. Jika di analogikan 1 gelas kopi kental Pontianak bisa jadi 2-3 gelas kopi dengan tingkat kepekatan normal. Istilah kopi Melayu pun jadi melekat dengan kopi kental nan pekat ini.

Untunglah warung kopi sekarang sudah punya standar kekentalan dan manis yang lebih baik. Biasanya kopi di warung aromanya lebih kencang, dengan rasa pahit yang lebih kuat dari rasa asam. 3 jenis kopi yang biasa disajikan, tubruk, saring dan kopi susu tubruk atau saring. Alat yang digunakan juga khas dengan teko tembaga tinggi dan disaring menggunakan kain panjang yang bentuknya seperti kaus kaki.

Cara memanggang kopi di Pontianak juga punya teknik tersendiri. biasanya sedikit gosong karena berprinsip kopi harus hitam pekat. Biasanya ditambahkan mentega agar lebih gurih dan aroma lebih keluar lagi. Untuk kupi kelas A maka tidak ada campuran tambahan tapi untuk kelas dibawahnya biasanya ditambahkan jagung atau beras.

Dengan banyaknya jenis kopi yang masuk ke Pontianak, saat ini beberapa warung kopi tradisional sudah mulai mencampurkan Arabika dan Robusta untuk menyeimbangkan rasa dan aroma. Kopi berbagai daerah pun mulai dilirik untuk dijual walaupun tidak banyak yang menyediakan karena terbentur masalah harga jual. Kopi luwakpun termasuk kopi yang cukup laris dinikmati di berberapa warung kopi Pontianak.


Aku dan Kopi
Bagi saya pribadi, kopi sudah seperti candu,menghirup aromanya saja sudah membuat hari menyenangkan. Rasa pahit dan asam menjadi satu dalam kenikmatan tanpa ada gula. Rasa tertinggal dibelakang kecapan memberikan sensasi berbeda. Saya termasuk orang yang lebih banyak menikmati kopi sendiri sembari membaca atau mendengarkan musik. Kopi yang saya minum pun biasanya  Nescafe classic terkadang saya menambahkan creamer tapi tetap tanpa gula.

Tapi bukan bearti saya tidak menikmati kopi sambil berinteraksi. Saya sudah menyatu dengan budaya kota Pontianak. “tadak gaul klo tadak nongkrong di warung kopi”. Saya lebih suka dengan es kopi saring tanpa gula untuk menemani obrolan panjang. Menikmati kopi di warung kopi tentu punya tujuan, selain menyapa teman-teman tentu memperluas jaringan pergaulan.

Kopi bisa memberikan warna dan nuansa baru kepada tiap orang. Apapun dan bagaimanapun cara menikmatinya masing-masing bebas untuk memilih. Aku suka kopi! kalau kamu?


Read More

Sabtu, 23 Juli 2016

Menikmati Santai di 2AM Cafe

Wih, Lama juga tidak mengarungi lautan kuliner kota Pontianak ini. Perkembangan rumah makan di Pontianak terbilang pesat sekali. Biasanya saya akan berpetualang 10 hari dalam 1 bulan dan saat saya kembali paling tidak 2-3 tempat makan meresmikan diri. Apa buktinya? gampang saja, kalau tiba-tiba kamu melintas disederetan ruko dan banyak ucapan selamat disitulah lokasi barunya. Entah menunya sudah banyak di Pontianak atau menghadirkan konsep makanan konsep baru.

Berhubung banyaknya café atau warung kopi modern bermunculan, niat saya untuk icip-icip kopi dan cemilan yang disajikan disana juga saya jadikan poin penting. Kemana saya akan menilik? kali ini 2 AM coffee menjadi tujuan. Alamatnya jalan Gusti Hamzah No 9F. Disini pasti menjual berbagai jenis kopi dan kabarnya, sang pemilik baru saja kembali dari Aussie. Pengalaman membuat dan melayani peminum kopi kulit putih pasti memberikan hal berbeda untuk rasa lokal Pontianak.

Mempunyai alat pemanggang kopi, penggiling dan pembuat kopi adalah hal wajib bagi tempat yang melabeli dirinya sebagai café. Mungkin biji kopi panggang masih bisa dipesan dari luar sehingga tidak perlu seorang roaster tapi memiliki barista yang handal. selain itu makanan teman minum kopi yang enak wajib disediakan. Tempatnya nyaman untuk bersantai lama atau sekedar mengobrol. Buku bacaan juga tersedia dipojok dalam lemari dekat pintu masuk untuk menemani pelanggan bersantai. Tempat duduk dengan sandaran serta alas yang empuk cukup membuat bahagia.

Begitu menghempaskan tubuh ke bangku, pramusaji segera menghampiri dan meletakkan daftar menu. Menu tertulis lengkap nama, harga dan bahan yang ada didalamnya serta informasi singkat. Saya tipe yang agak malas membaca dan mengamati secara spesifik, untuk tempat baru, pertanyaan saya selalu sama “disini makanan yang paling direkomendasikan dan paling banyak dipesan apa ya?”. Selain sebagai bahan survey bisa jadi sebagai bentuk test product knowledge badi pramusaji.

Pelayanan sudah sesuai standar, setelah pesanan ditulis lalu dilakukan cek dan ricek. Pesanan saya kali ini adalah Matchalatte dan Nachos, karena ini café shop pilihan saya juga jatuh ke espresso (Rp 10.000,-). Saya juga mengintip pesanan teman-teman yang datang bersama saya, iced chocolate (Rp 18.000,-), rainbow (Rp 16.000), pancake (Rp 20.000,-), iced hazelnut macchiato (Rp 25.000,-), tropical delight (Rp 16.000,-), fried rice (Rp 25.000,-), dan oreo shaved ice (Rp 20.000,-). Pesanan yag banyak dan beragam, ternyata untuk ukuran café mereka juga menyediakan makanan berat yang penuh karbohidrat. Sekarang tinggal menunggu saja makanan dan minuman ini tiba.

Minuman dan makanan datang berurutan dan tidak terlalu lamadiawal menit ke 15 makanan sudah berdatangan. Ah, ekspresso saya datang lebih awal, walaupun pramusaji pada awalnya tidak yakin saya memesan ini, berkali kali dia menjelaskan tentang porsi dan rasa espresso ini kepada saya. Apakah wajah ini terlihat tidak pernah minum espresso atau bukan peminum kopi? Dalam daftar menu saya melihat penjelasan yang penting mengenai crema di segelas espresso

Baiklah, saya pernah bertanya kepada Michaei Gibbons, espresso yang baik mempunyai ciri berwarna cokelat seperti hazelnut dan harus ada crema atau lapisan buih creamy berwarna cokelat kemerahan setebal 3-4 mm dipermukaan. Crema ini akan menghilang tapi special untuk arabika akan terlihat tipis tapi mampu bertahan hingga 15 menit. rasanya akan terasa kental dengan aroma yang harum untuk tekstur haruslah halus seperti beludru. Rasanyapun harus seimbang. Mudah-mudahan tangkapan telinga yang saya ingat dalam otak tidaklah salah.

Kopi yang disajikan ini sedikit hitam dengan crema yang hampir tidak ada, hanya membias tipis dipinggiran demitasse. Untuk kopi, saya memang tidak terlalu paham mengenai racikan tapi masalah rasa, saya cukup banyak berguru dengan beberapa cup tester sejak di Malang dulu. Sayang jika alat sudah bagus, biji kopi sudah kelas wahis tapi eksekusi baristanya kurang tepat.

Untuk cemilan kelas café seperti pancake rasanya boleh tahan, jauh lebih baik dari café Casa de’ Paris. Sayang untuk makanan seperti Nasi goreng rasanya masih kurang menggigit, bumbunya masih ‘nanggung’ antara asin dan gurih, semoga ada tambahan sambal yang super duper yummy. Untuk minuman yang disajikan semuanya dapat saya nikmati dengan bahagia. Untuk urusan jempol, saya harus memberikan nilai lebih untuk machalatte. Perpaduan antara Teh hijau dan steamed milk yang dikocok hingga berbuih sangat tepat dan membahagiakan. Rasa teh hijau tetap nikmat terbalut dengan susu. Tidak ada rasa yang tertutupi atau hilang. Gambar lucu berbetuk wajah beruang di buih susu juga memanjakan mata.

Saya juga tertarik untuk membahas nachos yang melenceng dari ekspektasi saya, dimana biasanya di saus guacamole menemani nachos tapi sayang diganti dengan saus pedas manis dan saus bolognaise untuk pasta. Oh ya, ada cerita lucu, pramusaji sempat menyajikan ini dan mengatakan ini pasta, saya sengaja mempermainkannya dengan mengatakan saya tidak memesan pasta tapi nachos sehingga dia harus kembali lagi tapi akhirnya pramusaji menghampiri saya kembali sembari memastikan pesanan saya bahwa ini nachos. Terlihat sekali sampai dimana pengetahuan sang pramusaji yang membuat saya dan teman-teman tertawa.

Overall tempat ini nyaman untuk ditinggali berlama-lama menikmati makanan dan minuman termasuk ngopi-ngobrol-santai. beberapa sudut disajikan cantik untuk remaja yang doyan selfie atau groufie seperti tempat kebanyakan. Pojok perpustakaan mini juga menjadi daya tarik tersendiri. Menurut saya TV layar besar dan berbagai Videoklip musik juga punya nilai lebih. Saya pribadi memberikan nilai 7,7 untuk tempat ini dari 10. Seandainya espresso yang disajikan sempurna. nilai 8,5 bisa saya berikan. Parkir yang lumayan luas untuk kendaraan juga membuat tempat ini lumayan nyaman.


Read More